Skip to main content

Iklan

KECEMBURUAN MENYINGKIRKAN MEGHAN?

Masih soal Mehan-Harry sebab kisah Kaesang-Felli berlangsung antiklimaks, sedangkan Ata-Laurel terlalu normatif.

Banyak sekali orang berspekulasi terkait kenapa Meghan "disingkirkan," oleh keluarga kerajaan Inggris hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke Los Angeles sekeluarga. Oprah Winfrey mengupas habis masalah ini melalui pengakuan Meghan dan Harry dalam wawancara eksklusifnya.

Yang cukup mengejutkanku, sekitar  menit 1:04:08 Oprah mengajukan pertanyaan tajam pada Harry apakah keluarga kerajaan menerima Meghan pada awalnya.

"Yes, better than I expected," kata Harry. Menurutnya semua anggota keluarga menyambut Meghan dengan sangat baik. 

"But it really changed after the Australia tour, after our Asia Pacific's tour," tambahnya..

"After I announced my pregnancy with Archie. That's our first tour.," Meghan menimpali pasangannya.

"And, it was also the first time that family got to see how incredible she's with the job. And that brought back memory," lanjut Harry menyudahi penjelasannya. 

Suasana menjadi senyap sekita 3 detik. Terasa sangat lama. Semuanya terdiam. Hingga Oprah menyambar dengan pernyataan yang ia ulang dua kali. 

"I am thinking because I watch the ground," kata sembari menanyakan apakah keduanya juga "watch the ground," -- Tiga kata ini sangat mungkin bermakna agar lebih berhati-hati.

Oprah selanjutnya mengkonfirmasi Harry apakah yang dimaksud "memory," adalah perjalanan ayah-ibunya, Charles dan Lady Di, ke Australia.

Aku kemudian mencari informasi mengenai perjalanan orang tua Harry ke Australia. Ternyata, terjadi pada tahun 1983, saat aku masih kelas dua SD. 

"The Crown has put Prince Charles and Princess Diana's Royal visit to Australia in 1983 in the spotlight. So what happened?" 

Itulah judul tulisan di portal online Australia abc.net.au yang aku temukan di internet. 

Duh Gusti, aku baru sadar telah salah mendengarkan; yang dimaksud Oprah adalah "I watched The Crown," bukan "I watched the Ground," 

The Crow adalah tayangan di Netflix yang mengisahkan perseteruan dan rivalitas politik serta kisah percintaan selama Ratu Elizabeth II berkuasa.

"Do you watch the Crown," tanya Oprah. Harry dan Meghan mengangguk. Pada musim keempat tayangan tersebut, tambahnya, ada tayangan Charles-Diana berkunjung ke Australia. Harry mengkonfirmasi bahwa itu yang ia sebut dengan "memory,"

"So are you saying that they were (hence?) some jealousy?' sergap Oprah.

Meghan dan Harry terdiam beberaoa saat. Dengan agak terbata-bata --sangat mungkin karena berat menjawabnya-- Harry kemudian meresponnya begini.

" Look I... I wish that we all learnt from the past. But to see how effortless it was from Meghan to come in to the family so quickly in Australian and across New Zealand, Fiji and Tonga, and just be able to connect with the people in such a..."  

Oprah buru-buru memotong Harry; bukankah hal yang demikian itu yang kamu dan keluarga inginkan --supaya Megan bisa diterima semua pihak.

Harry mengiyakan hal tersebut seraya menambahkan Meghan tidak hanya dapat diterima keluarganya namun juga dunia, khususnya negara-negara persemakmuran,

"She had one of the greatest assets to the commonwealth that family could've ever  wishful," ujar Harry.

Rasanya semua menjadi semakin jelas kenapa Meghan disingkirkan dengan cara membuatnya tidak nyaman. Apakah media di Inggris bersekongkol dengan kerajaan untuk memuluskan penyingkiran tersebut? Meghan dan Harry memiliki pendapat menarik. 

Dan, tentu saja, hanya yang punya video lengkap wawancaralah yang tahu persis pendapat Meghan dan Harry. 

Kamu punya? :)


Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita