Skip to main content

Iklan

PENGHORMATAN ATAS PARA KORBAN

MUNGKIN
baru buku ini yang secara khusus berani menyenggol sisi gelap pesantren, kaitannya dengan kekerasan seksual. Minimnya kajian tentang isu ini di pesantren bukannya tanpa alasan. Salah satunya, sangat mungkin karena pesantren senantiasa dipersepsikan dekat dengan Nahdlatul Ulama, organisasi afiliasiku.

Organisasi ini tidak hanya sangat besar  namun, yang lebih penting, ia kini tengah menangguk spotlight panggung politik nasional serta dianggap sebagai  dewa penyelamat bagi toleransi Indonesia. 

Terasa ada kerikuhan, kesungkanan, jika kekerasan seksual dalam pesantren terlalu diekspose ke luar. Aib harus ditutupi, bukannya malah diumbar. Ketimpangan relasi perempuan atas lelaki bukannya tidak disadari oleh kalangan internal pesantren. Mereka sangat sadar. 

Itu sebabnya kita perlu bergembira ria dengan munculnya gerakan, KUPI, misalnya. Singkatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia. 

Hanya saja, suara-suara tajam mengecam berbagai kasus kekerasan seksual di pesantren, dari kalangan pesantren sendiri, masih jauh dari lantang.

Setahuku ForMujeres, inisiator buku ini, lahir dari keprihatinan beberapa santriwati (dan juga santri?) atas ulah nista anak pemangku pesantren Shiddiqiyyah Ploso Jombang. Mereka secara gigih terus mendorong kasus kekerasan seksual ini tidak "masuk angin," 

Betapa tidak, kasus yang  ditangani sejak 2019 hingga kini belum masuk persidangan. Pelakunya? Mungkin cekikikan membaca tulisan ini. Padahal statusnya sudah sebagai tersangka. Entah sampai kapan keadilan bagi para Korban terpenuhi.

Ijtihad ForMujeres melalui buku ini bisa dikatakan merupakan terobosan luar biasa, karena diinisiasi orang-orang dengan latar belakang pesantren. Bunga rampai ini, menurut salah satu penggagasnya, setidaknya memuat tulisan sebagai berikut.

1. Remuk Redam Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren/Tsamrotul Ayu Masruroh

2. Kekerasan Seksual di Pesantren: Upaya Membayar Janji yang sulit Ditepati/Aan Anshori

3. Menakar Pesantren Dalam Jangkar Keadilan Gender/Nurul Bahrul Ulum.

4. Membangun Dunia Pendidikan Aman dari Kekerasan Seksual/Siti Aminah Tardi.

5. Consent dan Perwujudan Nilai Islam/Rika Rosvianti

6. Membunuh Mitos Kekerasan Seksual yang Usang/Kalis Mardiasih.

7. Respon Islam Atas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual/KH. Husein Muhammad

8. Fikih Anti Kekerasan Seksual Untuk Dunia Tanpa Kekerasan/Ayu Rikza.

9. Gerakan Perempuan Islam Dalam Jihad Gender dan Kritik atas Kapitalisme/Rizki Amalia Affiat.

Formujeres perlu dirawat dan dipastikan bisa menjadi besar. Sebab, pesantren membutuhkannya untuk membersihkan citranya yang tercoreng segelintir oknum yang memiliki pesantren.

Aku menyumbang satu tulisan. Berisi analisa dengan suguhan data kasus yang berhasil aku daapatkan. Aku sendiri membutuhkan keberanian untuk menuliskannya, demi penghormatanku atas Formujeres, Pesantren dan utamanya para Korban.(*)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita