Skip to main content

Iklan

VIDEO 416

Beberapa hari lalu, Pdt. Sisca dari Papua mengontakku sembari mengirimkan undangan. Isinya, undangan menghadiri ibadah perayaan ulang tahun GPI (Gereja Protestan di Indonesia) dan permintaan membuat video pendek ucapan selamat.

Aku terperanjat saat melihat berapa usia gereja ini. "Hah?! 416 tahun? Tua sekali," batinku. Ini gereja paling tua yang pernah bersinggungan dengan kehidupanku. 

Aku kemudian mengaktifkan kalkulator di gadget, menghitung 2021 dikurangi 416. Hasilnya 1605. Apakah ini tahun yang dianggap titik tolak pendirian gereja ini? 

Dengan penasaran, aku berusaha mencari tahu informasi terkait GPI di internet. Tahun ini merujuk pada ibadah pertama De Protestantche Kerk in Nederlandsch-Indie di Benteng Victoria Ambon, Selasa 27 Februari. 

Ibadah ini diklaim sebagai cikal bakal gerakan protestan di Indonesia, bahkan Asia. Kira-kira seratusan tahun sebelumnya, kerajaan Demak telah berdiri sebagai mercusuar politik islam di Jawa. Walisongo, sebelum akhirnya dipindah ke Pajang.

Aku belum pernah ke Masjid Demak maupun ke Pajang. Aku juga tidak pernah bertemu secara fisik dengan Pdt. Sisca. Kabarnya ia berada di Papua setelah beberapa waktu lalu sempat berdinas di GPI Jakarta. 

Meski demikian, hal in tidak membuatku canggung berkomunikasi dengannya. Sebelumnya, kami berdua cukup sering berkomunikasi untuk sebuah zoominar di GPI.

Ketidakcanggunganku dengannya, serta GPI, sebagian juga dikarenakan aku sudah lebih dulu kenal dengan ketua umumnya; Pendeta Liestje Sumampouw. Aku kerap memanggilnya "kak" -- Kami satu geng di working-team project PGI.

Awalnya aku pikir GPI hanya seperti denominasi lain, misalnya, GKI, GPIB, GKJW, GKJ, GPM dan yang lain. Namun rasanya aku tidak sepenuhnya tepat.

GPI ternyata juga seperti PGI --organisasi payung dari beberapa denominasi gereja. Terdapat sekitar 12 gereja-gereja bagian mandiri di GPI, antara lain GMIM, GMIT, GPIB, GPIBT, GPID, GPIG, dan lainnya.

"Ternyata kekristenan di Indonesia begitu banyak lekukannya," gumamku. Selama ini aku hanya mengangggap kekristenan bersifat tunggal tanpa layer. Pengetahuan baru ini semakin melengkapi database keagamaanku sebagai Muslim. Aku bisa menggunakannya, misalnya, untuk membantu teman-teman Muslimku saat mempelajari ragam denominasi kekristenan Indonesia.

Mungkin sikapku ini agak tidak lazim. Seharusnya aku tetap bersetia memelihara warisan kemarahan historis Islam-Kristen, mirip seperti kontestasi keluarga vampire Cullens versus klan werewolf Jacob dalam Twilight. 

Hanya saja, aku berpikir kemajemukan Indonesia harus dijadikan modalitas untuk memutuskan pewarisan tersebut. Muslim dan Kristen --juga agama/keyakinan lainnya-- perlu saling mendukung. 

Aku membayangkan, jika sebuah masjid dibangun, warga non-Islam berbondong-bondong bergotong royong. Sebaliknya, saat gereja, pura, vihara, klenteng, dan sanggar pamujan didirikan, orang-orang Islam datang membawa aneka kebutuhan pembangunan.  

"Sist, aku akan membuat video ucapan selamat namun nampaknya aku tidak bisa hadir dalam acara. Bentrok dengan acara lain" kataku kepada Sisca sembari meminta maaf.

Pada hari H, Pendeta Liestje mengontakku melalui WA sembari mengirim link zoom. Kode agar aku bisa bergabung.

"Kak, sorry nggak bisa join. Tapi kemarin beta kirim video via Pdt. Sisca. Dirgahayu GPI ke-416. Majulah kekristenan di Indonesia," kataku.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita